APA ITU FILSAFAT?
Secara umum pengertian Filsafat terbagi menjadi 2 yaitu secara Emitologis (Harfy) dan Terminologis (Istilahy) yang dimana memiliki sedikit perbeda'an dan kesama'an di antara keduanya,
1. Etimologis (harfy).
Secara etimologis, istilah “filsafat” berasal dari padanan kata falsafah (bahasa Arab) dan philosophy (bahasa Inggris), yang berhubungan erat dengan kata Yunani “philosophia”. Kata “philosophia” merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata: philein/philos dan sophia. Kata philos berarti cinta, atau kekasih, bisa juga berarti sahabat atau dalam arti yang luas ‘ingin’. Adapun shopia berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan/pengertian yang mendalam. Jadi, secara harfiah, philosophia bisa diartikan dengan “mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan”. Orang yang mencintai kebijaksanaan biasanya disebut “filsuf” atau “filosof.” Dalam bahasa Arab, dikenal kata hikmah yang hampir sama dengan arti kebijaksanaan. Kata hikmah atau hakim dalam bahasa Arab dipakai dalam pengertian falsafah dan failasuf, namun tidak semua kata hikmah atau hakiem dapat diartikan falsafah atau filsuf.
2. Terminologis (Istilahy).
Secara terminologis, filsafat diartikan secara berbeda-beda menurut para filsuf maupun cendekiawan. Meskipun demikian, antara yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Istilah filsafat pertama kali dikenalkan oleh Pythagoras (497 SM). Ia mengatakan bahwa filsafat adalah the love for wisdom (cinta akan kebijaksanaan). Istilah ini dipakai oleh Pythagoras untuk menentang sekelompok cendikiawan pada masanya yang mengaku ‘ahli pengetahuan’.3 Menurutnya, manusia tidak pantas menyatakan diri sebagai ahli pengetahuan karena pengetahuan begitu luas dan terus berkembang. Tidak ada seorang pun yang mungkin menguasai pengetahuan yang begitu luasnya ini karena kemampuan akal sangat terbatas. Julukan ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan apalagi kebijaksanaan sangatlah tidak tepat dilabeli pada siapa pun. Menurutnya, manusia hanya mampu menyusun dan menemukan rumus-rumus pengetahuan yang dapat diandalkan. Oleh karenanya, label yang lebih cocok adalah manusia hanyalah sebagai pencari dan pecinta pengetahuan dan kebijaksanaan, atau disebut filsuf. Dengan demikian, pecinta pengetahuan dianggap berfilsafat karena telah mengabdikan dirinya untuk dekat, bersahabat, dan mencintai pengetahuan.
Menurut Aristoteles (381 SM–322 SM), filsafat adalah ilmu tentang kebenaran yang meliputi aspek pengetahuan metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Metafisika berkaitan dengan pengetahuan murni tentang sesuatu. Logika berkaitan dengan tata cara berpikir dengan benar. Etika berkaitan dengan tata berperilaku yang benar. Ekonomi berkaitan dengan tata kelola perekonomian. Politik berkaitan dengan tata kelola negara. Sementara, estetika berkaitan dengan tata nilai keindahan.Menurut Plato (477 SM–347 SM), seorang filsuf Yunani terkenal yang juga gurunya Aristoteles, berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada dan berfokus pada pencapaian kebenaran yang murni. Untuk itu, filsafat berupaya menyelidiki sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala yang ada dalam rangka pencapaian hakikat pengetahuan.
- Apakah yang dapat kita ketahui? Dengan kata lain, dari sekian gejala alam yang tampak maupun tidak, apa saja yang dapat diketahui secara hakiki oleh manusia? Mampukah manusia mengungkap hakikat dari segala hal yang ada? Bahkan, mungkinkah keberadaan yang mungkin ada dapat diketahui oleh manusia dengan pasti? Pertanyaan ini melahirkan perdebatan pada aspek metafisik terkait hakikat keber-ada-an itu sendiri sehingga lahir bidang pengetahuan ontologi atau metafisika.
- Apakah yang boleh kita kerjakan? Dengan kata lain, apakah manusia bebas sebebas-bebasnya berbuat sekehendaknya ataukah terikat oleh nilai? Kapan manusia diberi label baik atau tidak baik? Pertanyaan ini melahirkan bidang pengetahuan yang berkaitan dengan moral manusia, biasa disebut etika.
- Sampai di manakah pengharapan kita? Dalam arti bahwa manusia memiliki harapan, namun harapan itu tidak terbatas pada apa yang dipikirkan atau dirasakan. Misteri dari ujung harapan manusia seringkali dianggap tidak terpecahkan karena hingga mati manusia dianggap tidak mampu mengetahui ‘ultimate goals’ dari kehidupannya. Oleh karenanya, pertanyaan ini dianggap lebih tepat ditangani oleh agama yang memberikan kepastian harapan, seperti surga.
- Apakah manusia itu? Manusia menyimpan misteri besar dalam hidupnya. Secara fisik, ia terdiri dari jasmani yang serba-tergantung pada materi lainnya, namun rentan terhadap materi lain yang menyebabkan fisiknya lemah. Masing-masing manusia memiliki kemampuan yang berbeda meski secara fisik dan sumber energinya sama. Secara psikis, manusia memiliki sisi jiwa yang penuh dengan misteri sehingga pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat manusia melahirkan bidang pengetahuan yang biasa disebut antropologi.
- Digunakan sebagai nama bidang pengetahuan.
- Digunakan sebagai nama hasil karya (seperti filsafat Plato)
- Digunakan untuk menunjuk suatu keyakinan.
- Digunakan untuk memberi nama suatu usaha menemukan pengetahuan (filsafat berarti berfilsafat).
- Digunakan untuk memberi nama orang yang cinta kebijaksanaan.
- Digunakan untuk memberi nama orang yang berbelit-belit dalam menguraikan sesuatu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar