Senin, 26 Februari 2024

 ASAL MULA FILSAFAT

Mengapa manusia berfilsafat? Menurut Bambang Hadiwijoyo, berfilsafat bisa diartikan merenungi hal-hal mendasar yang pokok melalui cara berpikir kritis. Berpikir kritis diartikan suka bertanya apa saja tentang segala hal pokok dan mendasar. Dalam realitasnya, bertanya apa saja merupakan karakter bawaan manusia sejak ia terbuka pikirannya dan tersadar akan keadaannya. Sehingga dengan demikian, berfilsafat merupakan upaya melanjutkan naluri manusia terkait dengan kuriositasnya terhadap berbagai macam hal, terutama terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat dirinya sebagai manusia.

Bagaimanapun demikian, banyak yang meyakini dan mengkaji bahwa sejarah filsafat tidak dapat dilepaskan dari sejarah peradaban Yunani Kuno, peradaban Abad Pertengahan, modern, hingga sampai kini, meski kita juga tidak menafikan bahwa peradaban Yunani Kuno juga telah banyak dipengaruhi oleh peradaban-peradaban lainnya yang juga maju seperti Mesir dan lainnya.

Munculnya filsafat Yunani dipengaruhi oleh banyak faktor yang seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani Kuno. Menurut K. Bertens, setidaknya ada tiga faktor, yaitu:

  1. Dongeng/takhayul/mitos. Mitos dianggap asal mula percobaan untuk mengerti tentang asal dunia, bagaimana kejadian alam, sebab-sebab alam, dan lain sebagainya.
  2. Kesusastraan Yunani yang memiliki nilai-nilai edukatif.
  3. Pengaruh ilmu pengetahuan. Pengaruh ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur dan ilmu hitung dari Mesir. Ilmu astronomi dari Babilonia.

Selain itu, untuk lebih memahami asal mula kelahiran filsafat, kita dapat merujuk pada pertanyaan mendasar yang diungkapkan Thales pada masa Yunani Kuno. Ia bertanya, “apakah bahan alam semesta ini?”. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sembarangan, karena yang dipertanyakan adalah masalah esensi atau hakikat alam semesta. Jadi, perlu pemikiran dan penyelidikan yang mendalam (radikal):

  1. Pancaindra jelas tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, sebab pancaindra hanya sekadar menyaksikan benda alam yang ada secara lahiriah.
  2. Sains juga tidak sanggup menjawab, karena hanya menyelidiki secara empiris benda yang ada.
  3. Tetapi filsafat mampu mengungkapkan jawaban yang lumayan dapat memuaskan. Seperti jawaban dari Thales sendiri bahwa bahan alam semesta adalah air, dengan alasan bahwa air itu dapat berubah menjadi berbagai wujud. Jika air dimasukkan ke ember maka ia akan membentuk seperti ember, dst. Selain itu, air amat dibutuhkan dalam kehidupan, bahkan bumi ini menurutnya terapung di atas air.


Pertanyaan seperti yang diungkap Thales dilatarbelakangi oleh ketakjuban (keheranan) terhadap alam semesta. Ketakjuban ini, menurut Jan Hendrik Rapar, menunjuk kepada dua hal penting, yaitu subjek dan objek. Jika ada ketakjuban pasti ada yang takjub (subjek) dan yang menakjubkan (objek). Subjek ketakjuban adalah manusia, sebab manusia satu-satunya makhluk yang memiliki perasaan dan akal budi. Hal ini karena ketakjuban hanya dapat dirasakan dan dialami oleh makhluk yang berperasaan dan berakal budi. Adapun objek ketakjuban adalah segala sesuatu yang ada, baik di alam nyata maupun di alam metafisik (abstrak). Selain itu, manusia takjub akan dirinya “yang ada” (Plato & Aristoteles ± 350 SM), dan ketakjuban akan moral hukum dan langit dengan bintang. Immanuel Kant (± 1750) memikirkan untuk ditemukan bagaimana kebenarannya.

Selain ketakjuban, hal yang mendorong manusia berfilsafat adalah karena adanya aporia (kesangsian, keraguan, ketidakpastian atau kebingungan). Pertanyaan yang timbul akibat aporia ini, menurut Ahmad Tafsir, muncul di zaman modern. Aporia ini berada di antara percaya dan tidak percaya. Ketika manusia bersikap percaya atau mengambil tidak percaya, maka pikiran tidak lagi bekerja atas hal itu. Akan tetapi jika ia berada antara percaya dan tidak percaya maka pikiran mulai bergerak dan berjalan untuk mencari kepastian. Sangsi atau keraguan akan menimbulkan pertanyaan, pertanyaan membuat pikiran bekerja, dan pikiran bekerja akan melahirkan filsafat. Jadi, sikap keingintahuan atau ingin kepastian terhadap sesuatu dapat melahirkan filsafat Filsafat juga dilahirkan atas kesangsian dan ketidakpuasan manusia terhadap realitas di sekelilingnya, seperti kemampuan pancaindra yang seringkali menipu, mitos yang seringkali menimbulkan beragam pertanyaan tentang kebenarannya, serta pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan kesadaran eksistensi manusia yang kecil dibanding alam semesta, bagaimana kebenaran fakta/ kenyataan tersebut.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  KARAKTERISTIK/SIFAT DASAR FILSAFAT Karakteristik persoalan filsafat adalah sebagai berikut: 1. Bersifat umum. Artinya, persoalan kefilsafa...