Senin, 26 Februari 2024

 

KARAKTERISTIK/SIFAT DASAR FILSAFAT

Karakteristik persoalan filsafat adalah sebagai berikut:

1. Bersifat umum. Artinya, persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus. Dengan kata lain, sebagian besar masalah kefilsafatan berkaitan dengan ide-ide besar.

2. Tidak menyangkut fakta. Dengan kata lain, persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut fakta.



 Bersangkutan dengan nilai-nilai (values). Artinya, persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian, baik nilai moral-etika, estetika, agama, dan sosial. Nilai, dalam pengertian ini, adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada suatu hal.

Bersifat kritis. Filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap konsep-konsep dan arti-arti yang biasanya diterima begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis.

Bersifat sinoptis. Artinya, persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan.

Bersifat implikatif. Artinya, kalau persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan.

Pendapat lainnya terkait karakteristik filsafat adalah sebagai berikut:

Menyeluruh (komprehensif): pikiran yang luas, karena tidak membatasi diri, ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain, dengan moral, seni, dan tujuan hidup.

Mendasar (radikal): pemikiran yang mendalam sampai kepada hasil yang fundamental/esensi objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan.

Spekulatif. Artinya, hasil yang diperoleh dari penyelidikan filsafat berupa dugaan, dan bukan kepastian. Dugaan yang dimaksud adalah dugaan yang logis, masuk akal dan rasional, bukan dugaan hampa.

Dari kajian di atas, dapat dipahami bahwa preferensi filsafat menunjukkan bahwa hal pokok yang perlu kita pahami dari filsafat adalah bahwa berpikir filosofis harus mencerminkan kategori:

a)     Kritis, yaitu filsafat mempertanyakan apa saja tanpa dapat ditolak oleh sistem apa pun, dalam arti tidak ada yang tabu untuk diperbincangkan dan dipertanyakan.

b)     Logis, yaitu filsafat mendasarkan upaya memperoleh kebenaran melalui logika (aturan berpikir benar) saja. Tiga tahap berpikir logis dimulai dari: memahami, mengkopseptualisasi, dan memberikan keputusan logis. Dari proses tersebut, kita kemudian dapat berargumentasi secara logis.

c)     Sistematis, yaitu berpikir melalui alur yang sistemik sehingga ditemukan adanya koherensi (saling runtut) di antara satu pernyataan/pertanyaan dengan pernyataan/pertanyaan lainnya.

d)     Radikal, filsafat mempertanyakan hal pokok sampai kepada akar masalah atau sedalam-dalamnya. Istilah radikal berasal dari kata ‘radix’ yang berarti akar. Jika kita pahami akar merupakan entitas yang berada di dan bercabang-cabang. Seperti itulah gambaran pertanyaan[1]pertanyaan dalam filsafat, yakni bercabang-cabang.

e)     filsafat membahas semua hal, menyangkut hakikat yang ada dan yang akan ada. Selama suatu hal dapat mengantarkan pada kebenaran hakiki, maka hal tersebut layak bincangkan oleh filsafat. Namun begitu, filsafat hanya fokus pada hal yang esensial dalam hidup, bukan hal yang teknis dan empiris.

 ASAL MULA FILSAFAT

Mengapa manusia berfilsafat? Menurut Bambang Hadiwijoyo, berfilsafat bisa diartikan merenungi hal-hal mendasar yang pokok melalui cara berpikir kritis. Berpikir kritis diartikan suka bertanya apa saja tentang segala hal pokok dan mendasar. Dalam realitasnya, bertanya apa saja merupakan karakter bawaan manusia sejak ia terbuka pikirannya dan tersadar akan keadaannya. Sehingga dengan demikian, berfilsafat merupakan upaya melanjutkan naluri manusia terkait dengan kuriositasnya terhadap berbagai macam hal, terutama terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat dirinya sebagai manusia.

Bagaimanapun demikian, banyak yang meyakini dan mengkaji bahwa sejarah filsafat tidak dapat dilepaskan dari sejarah peradaban Yunani Kuno, peradaban Abad Pertengahan, modern, hingga sampai kini, meski kita juga tidak menafikan bahwa peradaban Yunani Kuno juga telah banyak dipengaruhi oleh peradaban-peradaban lainnya yang juga maju seperti Mesir dan lainnya.

Munculnya filsafat Yunani dipengaruhi oleh banyak faktor yang seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani Kuno. Menurut K. Bertens, setidaknya ada tiga faktor, yaitu:

  1. Dongeng/takhayul/mitos. Mitos dianggap asal mula percobaan untuk mengerti tentang asal dunia, bagaimana kejadian alam, sebab-sebab alam, dan lain sebagainya.
  2. Kesusastraan Yunani yang memiliki nilai-nilai edukatif.
  3. Pengaruh ilmu pengetahuan. Pengaruh ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur dan ilmu hitung dari Mesir. Ilmu astronomi dari Babilonia.

Selain itu, untuk lebih memahami asal mula kelahiran filsafat, kita dapat merujuk pada pertanyaan mendasar yang diungkapkan Thales pada masa Yunani Kuno. Ia bertanya, “apakah bahan alam semesta ini?”. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sembarangan, karena yang dipertanyakan adalah masalah esensi atau hakikat alam semesta. Jadi, perlu pemikiran dan penyelidikan yang mendalam (radikal):

  1. Pancaindra jelas tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, sebab pancaindra hanya sekadar menyaksikan benda alam yang ada secara lahiriah.
  2. Sains juga tidak sanggup menjawab, karena hanya menyelidiki secara empiris benda yang ada.
  3. Tetapi filsafat mampu mengungkapkan jawaban yang lumayan dapat memuaskan. Seperti jawaban dari Thales sendiri bahwa bahan alam semesta adalah air, dengan alasan bahwa air itu dapat berubah menjadi berbagai wujud. Jika air dimasukkan ke ember maka ia akan membentuk seperti ember, dst. Selain itu, air amat dibutuhkan dalam kehidupan, bahkan bumi ini menurutnya terapung di atas air.


Pertanyaan seperti yang diungkap Thales dilatarbelakangi oleh ketakjuban (keheranan) terhadap alam semesta. Ketakjuban ini, menurut Jan Hendrik Rapar, menunjuk kepada dua hal penting, yaitu subjek dan objek. Jika ada ketakjuban pasti ada yang takjub (subjek) dan yang menakjubkan (objek). Subjek ketakjuban adalah manusia, sebab manusia satu-satunya makhluk yang memiliki perasaan dan akal budi. Hal ini karena ketakjuban hanya dapat dirasakan dan dialami oleh makhluk yang berperasaan dan berakal budi. Adapun objek ketakjuban adalah segala sesuatu yang ada, baik di alam nyata maupun di alam metafisik (abstrak). Selain itu, manusia takjub akan dirinya “yang ada” (Plato & Aristoteles ± 350 SM), dan ketakjuban akan moral hukum dan langit dengan bintang. Immanuel Kant (± 1750) memikirkan untuk ditemukan bagaimana kebenarannya.

Selain ketakjuban, hal yang mendorong manusia berfilsafat adalah karena adanya aporia (kesangsian, keraguan, ketidakpastian atau kebingungan). Pertanyaan yang timbul akibat aporia ini, menurut Ahmad Tafsir, muncul di zaman modern. Aporia ini berada di antara percaya dan tidak percaya. Ketika manusia bersikap percaya atau mengambil tidak percaya, maka pikiran tidak lagi bekerja atas hal itu. Akan tetapi jika ia berada antara percaya dan tidak percaya maka pikiran mulai bergerak dan berjalan untuk mencari kepastian. Sangsi atau keraguan akan menimbulkan pertanyaan, pertanyaan membuat pikiran bekerja, dan pikiran bekerja akan melahirkan filsafat. Jadi, sikap keingintahuan atau ingin kepastian terhadap sesuatu dapat melahirkan filsafat Filsafat juga dilahirkan atas kesangsian dan ketidakpuasan manusia terhadap realitas di sekelilingnya, seperti kemampuan pancaindra yang seringkali menipu, mitos yang seringkali menimbulkan beragam pertanyaan tentang kebenarannya, serta pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan kesadaran eksistensi manusia yang kecil dibanding alam semesta, bagaimana kebenaran fakta/ kenyataan tersebut.





OBJEK KAJIAN FILSAFAT

  1. Objek Material.

Objek material adalah objek yang merupakan fokus dari ilmu pengetahuan tertentu. Objek material filsafat yaitu segala yang ada dan mungkin ada, luas sekali dan tidak terbatas. Objek material merupakan segala sesuatu yang dipelajari sebagai bahan (materi) pembicaraan. Dalam hal ini, terdapat tiga hal pokok, yaitu manusia (antropologi), dunia (kosmologi), dan akhirat (teologi).Objek material antara filsafat dengan sains (ilmu pengetahuan) sama, yaitu sama-sama menyelidiki segala yang ada dan mungkin ada. Tapi ada dua hal yang membedakan di antaranya:

 a.   Sains menyelidiki objek material yang empiris. Sedangkan filsafat menyelidiki bagian yang abstraknya.

  b.   Ada objek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir (hal-hal yang tidak empiris). Jadi, objek material filsafat lebih luas daripada sains.

  2. Objek Formal

Objek formal adalah cara pendekatan yang dipakai dala mengkaji objek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan. Objek formal adalah objek yang menyangkut sudut pandang bagaimana objek material filsafat itu dibahas atau dikaji.

Oleh karena itu, di antara objek formal adalah metafisika, epistemologi, metodologi, logika, etika, estetika, aksiologi, dan lainnya.







 APA ITU FILSAFAT?


 


Secara umum pengertian Filsafat terbagi menjadi 2 yaitu secara Emitologis (Harfy) dan Terminologis (Istilahy)  yang dimana memiliki sedikit perbeda'an dan kesama'an di antara keduanya,

1. Etimologis (harfy).

    Secara etimologis, istilah “filsafat” berasal dari padanan kata falsafah (bahasa Arab) dan philosophy (bahasa Inggris), yang berhubungan erat dengan kata Yunani “philosophia”. Kata “philosophia” merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata: philein/philos dan sophia. Kata philos berarti cinta, atau kekasih, bisa juga berarti sahabat atau dalam arti yang luas ‘ingin’. Adapun shopia berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan/pengertian yang mendalam. Jadi, secara harfiah, philosophia bisa diartikan dengan “mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan”. Orang yang mencintai kebijaksanaan biasanya disebut “filsuf” atau “filosof.” Dalam bahasa Arab, dikenal kata hikmah yang hampir sama dengan arti kebijaksanaan. Kata hikmah atau hakim dalam bahasa Arab dipakai dalam pengertian falsafah dan failasuf, namun tidak semua kata hikmah atau hakiem dapat diartikan falsafah atau filsuf.


2. Terminologis (Istilahy).

   Secara terminologis, filsafat diartikan secara berbeda-beda menurut para filsuf maupun cendekiawan. Meskipun demikian, antara yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Istilah filsafat pertama kali dikenalkan oleh Pythagoras (497 SM). Ia mengatakan bahwa filsafat adalah the love for wisdom (cinta akan kebijaksanaan). Istilah ini dipakai oleh Pythagoras untuk menentang sekelompok cendikiawan pada masanya yang mengaku ‘ahli pengetahuan’.3 Menurutnya, manusia tidak pantas menyatakan diri sebagai ahli pengetahuan karena pengetahuan begitu luas dan terus berkembang. Tidak ada seorang pun yang mungkin menguasai pengetahuan yang begitu luasnya ini karena kemampuan akal sangat terbatas. Julukan ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan apalagi kebijaksanaan sangatlah tidak tepat dilabeli pada siapa pun. Menurutnya, manusia hanya mampu menyusun dan menemukan rumus-rumus pengetahuan yang dapat diandalkan. Oleh karenanya, label yang lebih cocok adalah manusia hanyalah sebagai pencari dan pecinta pengetahuan dan kebijaksanaan, atau disebut filsuf. Dengan demikian, pecinta pengetahuan dianggap berfilsafat karena telah mengabdikan dirinya untuk dekat, bersahabat, dan mencintai pengetahuan.

    Menurut Aristoteles (381 SM–322 SM), filsafat adalah ilmu tentang kebenaran yang meliputi aspek pengetahuan metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Metafisika berkaitan dengan pengetahuan murni tentang sesuatu. Logika berkaitan dengan tata cara berpikir dengan benar. Etika berkaitan dengan tata berperilaku yang benar. Ekonomi berkaitan dengan tata kelola perekonomian. Politik berkaitan dengan tata kelola negara. Sementara, estetika berkaitan dengan tata nilai keindahan.Menurut Plato (477 SM–347 SM), seorang filsuf Yunani terkenal yang juga gurunya Aristoteles, berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada dan berfokus pada pencapaian kebenaran yang murni. Untuk itu, filsafat berupaya menyelidiki sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala yang ada dalam rangka pencapaian hakikat pengetahuan.

    Al-Farabi (wafat 950M), seorang filsuf muslim ternama, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud atau tentang alam semesta beserta isinya, baik material maupun abstrak, dan bertujuan menyingkap hakikat terdalam dari apa yang sekadar tampak atau dialami atau dirasakan atau dipikirkan manusia.

    Bertrand Russell mendefinisikan filsafat sebagai the attempt to answer ultimate question critically dalam arti upaya untuk menjawab pertanyaan tinggi (yang tidak dapat dijawab sains) secara kritis.

    Immanuel Kant (1724 M–1804 M) tokoh penting abad modern dan dijuluki pemikir Barat terkemuka mengatakan bahwa filsafat merupakan ilmu pokok dari segala ilmu pengetahuan. Filsafat menawarkan empat pertanyaan kritis dan mendalam, yaitu:

  • Apakah yang dapat kita ketahui? Dengan kata lain, dari sekian gejala alam yang tampak maupun tidak, apa saja yang dapat diketahui secara hakiki oleh manusia? Mampukah manusia mengungkap hakikat dari segala hal yang ada? Bahkan, mungkinkah keberadaan yang mungkin ada dapat diketahui oleh manusia dengan pasti? Pertanyaan ini melahirkan perdebatan pada aspek metafisik terkait hakikat keber-ada-an itu sendiri sehingga lahir bidang pengetahuan ontologi atau metafisika.
  •  Apakah yang boleh kita kerjakan? Dengan kata lain, apakah manusia bebas sebebas-bebasnya berbuat sekehendaknya ataukah terikat oleh nilai? Kapan manusia diberi label baik atau tidak baik? Pertanyaan ini melahirkan bidang pengetahuan yang berkaitan dengan moral manusia, biasa disebut etika.
  • Sampai di manakah pengharapan kita? Dalam arti bahwa manusia memiliki harapan, namun harapan itu tidak terbatas pada apa yang dipikirkan atau dirasakan. Misteri dari ujung harapan manusia seringkali dianggap tidak terpecahkan karena hingga mati manusia dianggap tidak mampu mengetahui ‘ultimate goals’ dari kehidupannya. Oleh karenanya, pertanyaan ini dianggap lebih tepat ditangani oleh agama yang memberikan kepastian harapan, seperti surga.
  • Apakah manusia itu? Manusia menyimpan misteri besar dalam hidupnya. Secara fisik, ia terdiri dari jasmani yang serba-tergantung pada materi lainnya, namun rentan terhadap materi lain yang menyebabkan fisiknya lemah. Masing-masing manusia memiliki kemampuan yang berbeda meski secara fisik dan sumber energinya sama. Secara psikis, manusia memiliki sisi jiwa yang penuh dengan misteri sehingga pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat manusia melahirkan bidang pengetahuan yang biasa disebut antropologi.
    Poedjawijatna mendefinisikan filsafat sebagai bidang pengetahuan yang berupaya menemukan hakikat mendalam dari segala sesuatu berdasarkan akal pikiran semata. Menurutnya, basis filsafat adalah akal pikiran meski objek kajiannya dapat meliputi keberadaan yang abstrak maupun konkret.

    Hasbullah Bakri mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia untuk diketahui hakikatnya dan bagaimana sikap manusia setelah mengetahui hakikatnya. 

    Harun Nasution juga mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafa dengan wazan atau timbangan fa’lala, fa’lalah, dan fi’lal. Kalimat isim atau kata benda dari kata falsafa ini adalah falsafah dan filsaf. Dalam bahasa Indonesia, lanjut Harun, banyak terpakai kata filsafat, padahal bukan dari kata falsafah (Arab) dan bukan pula dari philosophy (Inggris), bahkan juga bukan merupakan gabungan dari dua kata fill (mengisi atau menempati) dalam bahasa Inggris dengan safah (jahil atau tidak berilmu) dalam bahasa Arab, sehingga membentuk istilah filsafat. Dalam bahasa Indonesia, seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”. Jadi, filsafat adalah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kepandaian atau cinta pada kebijakan.

    Sedangkan menurut Louis O. Kattsoff, filsafat merupakan suatu analisis (perenungan/pemikiran) “secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai sesuatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandangan yang menjadi dasar suatu tindakan.”

    Dari berbagai pengertian di atas, filsafat dengan demikian merupakan refleksi logis (berdasarkan akal) manusia ataskeseluruhan dasar realitas untuk memperoleh kebenaran hakiki atau memperoleh kebijaksanaan. Hal ini sebagaimana al-Kindi (801–872 M) menyampaikan bahwa filsafat merupakan aktivitas tertinggi manusia secara akal karena berupaya menyibak tabir kebenaran hakiki mengenai segala yang ada sejauh kemampuan berpikir mungkin itu sendiri. Oleh sebab akal adalah ciptaan Sang Maha Pemilik Akal, maka filsafat tertinggi adalah memahami filsafat pertama, yaitu mengetahui hakikat kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.

    Pada kajian lainnya, dikatakan bahwa filsafat merupakan refleksi atau perenungan rasional, kritis, dan radikal tentang hal-hal pokok dalam rangka mencapai kebenaran. Rasional artinya berdasar pada akal (logika). Kritis artinya mempertanyakan segala hal (tidak ada yang tabu untuk dipertanyakan). Radikal artinya mendalam. Kata ini berasal dari bahasa Yunani ‘radix’ yang berarti akar.

    Luasnya kajian filsafat juga melahirkan berbagai penggunaan istilah filsafat itu sendiri. Kata filsafat sering digunakan untuk menunjuk berbagai objek yang berbeda:
  • Digunakan sebagai nama bidang pengetahuan.
  • Digunakan sebagai nama hasil karya (seperti filsafat Plato)
  • Digunakan untuk menunjuk suatu keyakinan.
  • Digunakan untuk memberi nama suatu usaha menemukan pengetahuan (filsafat berarti berfilsafat).
  • Digunakan untuk memberi nama orang yang cinta kebijaksanaan.
  • Digunakan untuk memberi nama orang yang berbelit-belit dalam menguraikan sesuatu


  KARAKTERISTIK/SIFAT DASAR FILSAFAT Karakteristik persoalan filsafat adalah sebagai berikut: 1. Bersifat umum. Artinya, persoalan kefilsafa...